Oleh, selvi
Ternyata mendengar kata flashback efeknya sedahsyat itu. Bikin senyum-senyum sendiri, ketawa,habis itu sedih. Faktor apa coba? Kangen lah. Sebenarnya siapa yang ciptain kata “kangen”.
Mana ku tahu?
Huf……
Ngaku kalian semua! Kalau
lagi kangen pasti ingin sekali balik kemasa itu? Menurutku wajar hal itu
terjadi dan aku sendiripun mengalaminya tapi mungkin saja ya kita pakai kata mungkin tau kan artinya.
Cuman mau bilang jangan
jadi pengecut untuk diri sendiri. Bahaya.
Thanks
to
para panitia. Karena acara terakhir tidak berakhir mepet dengan waktu
kembalinya kami. Dan karena itu, aku bisa membuat kenangan baru.
Bukan kenangan yang spesial.
Sama sekali tidak ada hal mengesankan yang patut diingat kembali. Entahlah. Sepertinya
kota itu ingin sekali meninggalkan memori dalam ingatanku.
Malam itu, kami diijinkan
kemanapun tetapi jam 10 harus sudah berkumpul semua. Kami menggunakan bus dari
hotel Pelangi yang kami tempati kurang lebih seminggu. Seingat aku nama
hotelnya itu tapi kalau salah ya maaf namanya juga manusia tapi aku masih muda, woi.
| Ini hotelnya. FYI, source: google. |
Hem….
Kami memutuskan turun disebuah
warung es teler sederhana dipinggir jalan. Konyol ga sih? Buat apa malam gitu
makan es ditambah jagung bakar sambil menikmati kereta gantung? Kebetulan ada kereta gantung dekat
situ.
Jujur, rasa esnya
bahkan terlalu biasa dibandingkan dengan es lain yang pernah kucoba. Bahkan bisa
kukatakan hambar rasanya.
Tapi entah mengapa,
sepertinya kota itu lagi-lagi berperan besar membuat es yang hambar terasa
manis sekali. warung itu sudah sepi.
Pernah dengar kata mainstream?
‘Sesuatu akan terasa
lebih berharga ketika kita telah kehilangannya’
Waktu itu rasanya biasa
saja. Hanya perbincangan biasa, ya walaupun deselingi banyak tawa. Kami membicarakan
banyak hal yang menurutku tidak cukup berguna. Tentang bagaimana perasaan
kami setelah melalui banyak hal dikota itu (yang mana ini terlalu mainstream
untuk dibahas), hingga tentang bagaimana mencoba eskalator sampai lift hingga ke lantai 3
di mall
Ah, jadi teringat
ekpresi konyolku malam itu.
Oh iya, saat itu kami
juga membahas tentang berapa banyak orang yang sudah dikenal selama 5 hari
dikota kenangan itu.
Hem…berapa ya? 50 mungkin? Tidak ingat.
Menghitung jumlahnya,
menebak namanya, dan mengingat kesan yang telah kami berikan.
Tidak cukup spesial.
Ketika dalam perjalanan
menuju arah buram itu, aku sempat gelisah. Kenapa gelisah? Santai dan stay
positive thinking.
Ini pertama kalinya
kami keluar tanpa pendamping masing-masing. Tenang
masih aman disini. Kukira kami akan mengelilingi kota itu
selama 3 jam lebih dan tidak semuanya kejangkau sih tapi setidaknya membayar
semua hayalanku disiang hari. Eh,
malah makan es teler hambar manis itu.
Dan anehnya,
perbincangan tidak penting itu membuatku lupa diri. Hayo apa? aku sama sekali
tidak mengecek jam saat itu.
Padahal lagi-lagi, nothing special.
Sampai kami diingatkan bahwa
sudah waktunya untuk kembali ke hotel. 15 menit. Aku tidak tahu sejauh apa
jarak warung es teler dengan hotel. Tapi 15 menit? Apa gila?
Belum ke toilet, belum
bayar, dan belum ….
Ucapan perpisahan.
Astaga. Kenapa pula aku
mengingat tentang ini lagi?
Cukup sampai disini. Aku
sama sekali tidak ingin mengingat bagian itu.
Tolong diingat, salah
satu hal yag paling kubenci di dunia.
Perpisahan.
Ternyata kota panas itu
menempati banyak ruang memoriku. Ternyata kota yang sebenarnya tidak ada
bedanya dengan kota lain menyita banyak tempat dihatiku.
Hati-hati kalau pergi
ke kota yang baru kalian kunjungi. Bisa-bisa, kenangan bajibun berebut masuk
keingatan kalian. Apalagi perihal manusianya. Kacau deh.
Tidak tahu
menganggapnya apa. Kakak mungkin? Aku berharap
punya kakak seperti mereka.
Cukup sampai disini.
Satu hal. Aku ingin makan
es teler hambar lagi jika kembali kekota itu lagi.
Cukup, Kupang.
Aku rindu.
‘ Cerita ini terjadi
pada tahun 2011 artinya masih berada dibangku smp. Hitung sendiri ya berapa
tahun lalu👻. Saat itu mewakili sekolah ikut LOMOJARI tingkat propinsi dan
pertama kali aku merasakan berada di pesawat, pake lift, ke mall hanya untuk mencoba
eskalator beberapa kali dan beli 1 celana yang harganya mahal minta ampun
padahal modelnya biasa saja dan masih banyak lagi. Harap maklum, masih bocah dan memang itu pengelaman pertama mengenal semua itu. Tukasku waktu itu kapan lagi coba mumpung ada kesempatan, dibayarin pula siapa yang ga mau. dan mohon maaf waktu itu sekolahku yang artinya mewakili kabupaten cuman bisa juara empat. Standarlah wkwkw'.
Komentar
Posting Komentar